Pengen Nangis Rasanya..
Piala Thomas 1984, Adu Strategi Seru!
Piala Uber 1984.
Tim Putri China yang sudah mendominasi dunia sejak 1982, di arena ini
merupakan pendatang baru, yang diperhitungkan sebagai calon paling kuat
untuk merebut supremasi dan membawa pulang Piala Uber ke negaranya,
untuk kali pertama.
Jepang yang mendominasi Piala Uber sejak
1966 samasekali tidak berkutik, bahkan gagal maju ke semi final.
Demikian juga Indonesia yang langganan finalis, Ivanna Lie dan
kawan-kawan menyerah oleh China 0-5, Jepang 2-3 dan Denmark 2-3.
Seperti diramalkan China memboyong piala itu dengan menyapu semua lawannya dengan angka mutlak 5-0, termasuk Inggris di final.
Piala Thomas 1984.
Masih belum ada lawan berarti yang diperhitungkan mampu menandingi
kedigdayaan tim putra China dan Indonesia. Sebagai juara bertahan, China
memang lebih diunggulkan untuk mempertahankan Piala Thomas. Keunggulan
ini diperhitungkan berkat prestasi tunggal mereka yang lebih mengkilap
dalam 2 tahun terakhir ini. Namun, keunggulan mereka tidaklah mutlak,
karena ganda mereka masih kalah selapis dibanding Indonesia. Tapi tidak
ada yang tidak sepakat bahwa China dan Indonesia akan mengulangi
pertemuan mereka di final seperti 1982. Siapa yang menang, akan
benar-benar tergantung pada strategi masing-masing tim untuk
“mensiasati” peraturan baru ini.
Tim Thomas China 1984
Selain masih eksisnya jago-jago tunggal putra tim Thomas1982, Han Jian
28 tahun, Luan Jin 26, dan Chen Changjie 25, tim putra China juga
diperkuat bintang-bintang baru yang prestasinya sedang menanjak Yang
Yang 21 dan Zhao Jianhua 19. Sedang yang didaftarkan sebagai pemain
ganda adalah Sun Zhian 28 Yao Ximing 28, He Sangquan 29, Lin Jiangli 30
serta pemain muda Jiang Guoliang 22, Li Yongbo 22 . Tian Bingyi 21.
Berdasarkan peringkat, susunan pemain tunggal China adalah Zhao Jianhua
ditunggal pertama, kemudian berturut-turut Han Jian, Yang Yang, Luan
Jin dan Chen Changjie. Di ganda, meskipun banyak kemungkinan yang
terjadi, tapi alternatifnya tidak banyak. Sun/Yao pertama, kemudian
He/Lin atau He/Jiang dan ganda baru yang sedang menanjak Li Yongbo/Tian
Bingyi
Tim Thomas Indonesia 1984
Tumpuan harapan
Indonesia terletak di pundak Liem Swie King 28 tahun dan bintang baru
juara dunia 1983, Icuk Sugiarto 21, yang didukung Hastomo Arbi 26, Eddy
Kurniawan 21 dan Hadiyanto 28 .
Beberapa saat sebelumnya, Icuk
sempat membuat berita dengan menolak untuk dilatih oleh Tan Yoe Hok
bersama rekan yang lain. Tan yang berjiwa besar, bahkan bersedia mundur
sebagai pelatih, tapi kemudian Icuk diperkenankan berlatih sendiri
bersama Tahir Jide yang kemudian diangkat sebagai pelatih fisik.
Hastomo Arbi, adalah sulung dari 3 Arbi bersaudara, bintang bulutangkis
Indonesia (Hastomo, Eddy Hartono dan Hariyanto). Namanya sudah sempat
mendunia sejak 1979, tapi karena terkena skorsing setahun akibat kasus
doping di All England 1981, dia tidak memperkuat Indonesia di Piala
Thomas 1982.
Menyadari bahwa secara kwalitas tunggal Indonesia
yang mampu menandingi tunggal China hanyalah King dan Icuk, Indonesia
berusaha keras untuk menyimpan 2 pemain ini, agar peringkat dunianya
turun. Di hari H, susunan pemain Indonesia sesuai peringkat adalah
Hastomo, Icuk, King, Eddy Kurniawan dan Hadiyanto.
Sedangkan
yang didaftar untuk sektor ganda adalah Icuk, King, Christian Hadinata
34 tahun, Hadibowo Susanto 25, Bobby Ertanto 26, Kartono Hariatmanto 29,
Rudy Heryanto 29 serta Sigit Pamungkas 25.
Indonesia memang
beruntung punya pemain dengan talenta seperti Christian. Sebagai pemain
paling senior, dia bisa dipasangkan dengan siapa saja yang tertera dalam
daftar dan punya prestasi bagus. Hal ini yang membuat pusing calon
lawan Indonesia karena kemungkinan susunan ganda Indonesia bisa amat
bervariasi. Meskipun demikian peringkat ganda tertinggi adalah
Christian/King, disusul Kartono/Heryanto, Christian/Hadibowo,
Hadibowo/Bobby Ertanto, Christian/Icuk dan Christian/Bobby
Perang Strategi yang seru.
Meskipun tidak mudah, (Indonesia dipaksa habis2an oleh Inggris 3-2, dan
China lolos dari hadangan Denmark juga dengan 3-2), tapi seperti yang
diperhitungkan, China akhirnya berjumpa Indonesia dalam partai ulangan
final 1982.
Meninjau susunan tunggal China sesuai peringkat
pemain (dan memang dipakai China selama penyisihan), formasi ini
menguntungkan Indonesia. Hanya Hastomo yang diperhitungkan kalah
kecepatan oleh Zhao Jianhua. Icuk seimbang dengan Han Jian (skor 3-3).
King ditunggal ke 3 diperhitungkan akan mampu mengatasi Yang Yang
(terakhir Yang Yang kalah oleh King di Indonesia Open 1983).
China yang underdog di ganda, amat memperhitungkan akan turunnya ganda
maut Christian/King (meskipun tidak pernah diturunkan di babak
penyisihan). Tidak ada ganda China manapun yang mampu menahan ganda
Indonesia ini. Karena itu China dengan sengaja melepas partai ini,
membiarkan pasangan keduanya He Sangquan/Jiang GuoLiang untuk
menghadapinya. Merombak pasangan utamanya Sun Zhian/Yao Ximing dengan
Sun Zhian/Tian Bingyi yang diperhitungkan akan mampu mengatasi
Kartono/Heryanto di ganda kedua sekaligus partai terakhir.
Tapi susunan pemain yang diajukan pagi harinya oleh kedua tim, membuat semua orang terkejut, tidak terkecuali kedua kubu.
China tenyata tidak memainkan Zhao Jianhua! Pemain muda kidal yang
dahsyat dan belum terkalahkan sejak kemunculannya 6 bulan terakhir,
tidak diturunkan!
Susunan pemain tunggal kedua tim adalah
Hastomo vs Han Jian, Icuk vs Yang Yang dan King vs Luan Jin. Formasi ini
justru tidak menguntungkan Indonesia. Hastomo sudah 3 kali bertemu Han
Jian tanpa pernah menang, Demikian juga Icuk yang 3 kali kalah telak
oleh Yang Yang. Hanya kans King vs Luan Jin yang seimbang (skor 4-3
untuk King).
Di partai ganda, ternyata sampai detik terakhir
pasangan maut Christian/King tidak pernah diturunkan! Christian tetap
dipasangkan dengan Hadibowo, pasangannya selama penyisihan. Dan
Kartono/Heryanto dirombak dengan King /Kartono!. Pasangan yang belum
pernah bermain di dunia internasional ini, tidak punya peringkat dan
menjadi ganda kedua.
Stadium Negara Kuala Lumpur, Jumat malam 18 Mei 1984.
Supporter Indonesia sejak siang sudah memadati arena pertandingan.
Berasal dari segala penjuru dan strata sosial. Tidak ada bedanya pekerja
kasar konstruksi, pekerja perkebunan, mahasiswa, dosen, karyawan
kantoran, pejabat, pengusaha, wisatawan. Semuanya satu visi mendukung
Indonesia!. Rasanya malam itu WN Indonesia yang tetap jaim adalah yang
harus duduk di kursi kehormatan, Menpora Abdul Gafur karena didampingi
pejabat Malaysia. Mantan Wapres dan Ketua KONI, Sri Sultan HBIX bahkan
memilih duduk bersama offisial tim Indonesia. Yang lain? Kalah jumlah
gak masalah, yang penting gak kalah aksi dan kencangnya teriakan.
Betul, supporter tim China yang asli memang tidak sebanyak dan segarang
supporter Indonesia. Yang bikin masalah adalah supporter yang
jelas-jelas membawa bendera strip biru putih, tapi berlaku sebagai
supporter China. Perang supporter yang sebenarnya terjadi adalah dengan
supporter Malaysia! Ungkapan “saudara serumpun” rupanya tidak berlaku di
arena olahraga. Yang terjadi adalah “saingan serumpun”!.
Pertandingan itu.
King yang harus bermain rangkap diijinkan untuk bermain lebih dulu.
Membuka pertandingan melawan Luan Jin yang tidak berkutik oleh ‘King’s
Smash’ di set pertama. King unggul 15-7. Di set kedua, King bermain
terlalu terburu-buru dalam usaha untuk menang straight set. Namun Luan
Jin yang sudah mulai panas, gigih bertahan.
Kemudian insiden itu terjadi.
Dalam kedudukan 9-7, King dianggap memukul bola Luan Jin sebelum
melewati net. Setelah itu konsentrasi King bubar berantakan, smashnya
banyak keluar atau nyangkut. Luan Jin mampu memaksa rubber set 11-15.
Set ketiga adalah titik balik. Luan Jin terus menerus unggul dan
mengakhiri partai itu untuk kemenangan China 10-15 (China unggul 1-0).
Awan kecemasan melanda kubu Indonesia. King yang diharap menyumbang
angka di tunggal ternyata kalah. Akankah tunggal Indonesia kalah semua?
Hastomo Arbi yang ‘underdog‘ ternyata tidak ada takutnya. Pemain asal
Kudus yang mungil (162 cm) dan tampan ini seperti kesetanan meladeni Han
Jian. Kekalahannya sebelumnya seperti tidak berpengaruh. Kombinasi lob
serang dan dropshot tajam membuatnya unggul cepat 9-3, sebelum disamakan
10-10. Han Jian sempat meraih ‘match point‘ 14-12 sebelum Hastomo
memaksakan deuce 14-14. Namun set itu ditutup untuk kemenangan Han Jian
17-14. Set kedua Hastomo makin meningkatkan tempo. Footworknya sempurna
dan kombinasi lob serang dan dropshotnya semakin tajam dan cepat,
membuat Han Jian pontang panting tidak berkembang. Hastomo sepenuhnya
mengontrol permainan. 9-2, 13-2, 13-6 dan 15-6 dalam 15 menit saja.
Set ketiga Han Jian mencoba meladeni permainan cepat Hastomo dan sempat
unggul 0-1, 1-2. Tapi tanpa pindah servis, Hastomo melaju 8-2. Setelah
pindah tempat Han Jian mendapatkan ‘second wind‘ dan angka mulai
bergeser alot. Pada kedudukan 11-7 untuk Hastomo, tiba-tiba pelatih Tan
Yoe Hok berlari menemui Wasit Kehormatan Arthur Jones, memprotes
keputusan wasit. Diiringi kilatan puluhan lampu blitz wartawan dan
sorakan saling ejek antar supporter, pertandingan terhenti. Meskipun
protes ditolak, dan pertandingan dilanjutkan kembali, mood Han Jian
menjadi rusak. Hastomo menutup set ketiga ini untuk kemenangannya 15-8.
(China 1, Indonesia 1).
Angin segar bertiup kembali, Indonesia
membuka peluang. Halo-halo Bandung dan Garuda Pancasila berkumandang
tanpa ada yang suruh, tanpa ada yang pimpin.
Icuk Sugiarto
ternyata bermain di bawah form terbaiknya. Tidak mampu keluar dari
tekanan mental akibat kekalahan sebelumnya, permainannya segera menjadi
bulan-bulanan. Tidak saja oleh Yang Yang, tapi juga oleh supporter
lawan. Supporter Indonesiapun yang kecewa karena melihat Icuk yang
bermain tanpa semangat, akhirnya ikut-ikutan mengejeknya. Permainannya
makin kacau dan Icuk kalah menyakitkan 9-15, 10-15. (Indonesia 1, China
2)
Christian yang tampil berikutnya bersama Hadibowo bermain
tenang seolah tanpa beban harus menyamakan kedudukan. Sudah diduga,
perlawanan He Sangquan/Jiang Guoliang berlangsung gigih. Mereka tahu
kalau Hadibowo berada di depan net, ganda kita ini akan “mati angin”.
Karena itu mereka berusaha mendorong Christian ke belakang sambil
menarik Hadibowo ke depan. Tapi mereka kalah pengalaman. Angka ketat
berkejaran 3-3, 4-4, 7-7, 10-10, 13-13. Dan Christian/Hadibowo
menyudahi set pertama ini 18-14.
Set kedua ganda China
meningkatkan kecepatannya dan ganti menekan. Mereka unggul 0-3, 1-4,
2-7,dan Christian melambatkan tempo 5-7, 7-7 Ganda China tancap gas lagi
7-9. Tapi hanya sampai disitu perlawanan mereka. Dengan sekali servis,
ganda kita melaju 12-9.
Saat itu smash He dihindari Christian
dan keluar.Wasit sudah menyatakan angka untuk pasangan kita, 13-9. Tapi
Christian mendatangi wasit, menyatakan bahwa sebelum jatuh di luar
lapangan, bola itu sudah menyentuh bahunya lebih dulu. Wasit meralat
keputusannya, dan bola berpindah untuk keuntungan He/Jiang 9-12. Sungguh
sulit mencari pemain yang bertindak sportif di angka kritis seperti
itu. Tapi kemudian He/Jiang justru yang “grogi” dan menyerah 15-10
(Indonesia 2, China 2)
Saat itu sudah hampir tengah malam.
Ketegangan merayap sampai ke puncak, menekan setiap orang. Tidak ada
lagi penonton yang tahan untuk tetap duduk di kursinya. Offisial, pemain
cadangan dan pemain putri Indonesia berdiri rapat bergandeng tangan.
Lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan penonton mengiringi King/Kartono
masuk lapangan.
Meskipun dua orang ini biasanya lebih suka
bermain dibelakang sebagai ‘tukang gebuk’, tapi Kartono malam itu
bermain taktis dalam menempatkan bola di depan jaring. Pengembalian
lawan yang melambung menjadi sasaran smash King yang sangat tajam.
Pasangan baru ini kelihatan belum padu dan sering dalam posisi sejajar
mengadu raket bila bola diarahkan diantara mereka, tapi lawannya juga
sama tidak padunya.
Meskipun pertandingannya sangat menegangkan
dan angka ketat berkejaran, King/Kartono memang lebih unggul selapis,
dan terus menerus unggul. Diiringi gegap gempita supporter Indonesia,
King/Kartono akhirnya menang juga straight set 18-14, 15-12.
Supporter Indonesia yang paling-paling berjumlah 3.000an orang dari
total 10.000 penonton seketika meledak dalam euforia. Ratusan orang
turun dari tribun, berlarian masuk lapangan untuk bermain kejar-kejaran
dengan petugas. King terisak dibahu Tan Yoe Hok, Sri Sultan HBIX
menghampiri Kartono dan memeluknya, Ivanna Lie bersama Yanti Kusmiati
sambil membawa Sang Merah Putih kelihatan berlari melakukan “victory
lap” yang gagal diselesaikan karena dihentikan oleh petugas. Malam itu
Stadium Negara Kuala Lumpur berubah menjadi Istora Senayan. Penonton
tidak mau bubar juga walau upacara penyerahan Piala Thomas telah selesai
dan waktu sudah menunjukkan jam 02.30 dini hari. Sebuah peristiwa
heroik yang sulit saya lupakan, sampai sekarang!
Senin, 27 Februari 2012
Nostalgia Uber Cup 1996
Menjadi tim yang tidak dijagokan menjuarai sebuah turnamen adalah
keuntungan tersendiri untuk bermain lepas tanpa beban. Itu harusnya
menjadi motivasi tersendiri untuk tim Piala Uber Indonesia kali ini.
Maria Kristin dkk perlu semangat juang tinggi untuk membuktikan bahwa
mereka bukanlah tim lemah. Kondisi Tim Uber sekarang jauh lebih baik
jika dibandingkan kondisi tim putri tahun 2004 & 2006.
Dalam pertandingan beregu, bertabur pemain bintang bukanlah jaminan
untuk menjadi yang terbaik. Kebersamaan tim harus menjadi bagian yang
utama. Aura kejuaraan beregu sangat berbeda jauh dengan kejuaraan
perseorangan. Dalam kejuaraan beregu, hasil partai sebelumnya
berpengaruh terhadap pertandingan selanjutnya. Maka mental pemain akan
menjadi hal yang paling penting.
Nostalgia Piala Uber 1996
adalah contoh nyata. Tim Indonesia yang dimotori Susi Susanti mampu
keluar menjadi jawara walau banyak media baik dalam negeri maupun luar
negeri lebih menjagokan China. Memang prediksi tersebut tidaklah salah
sebab tim China waktu itu bermaterikan pemain kelas wahid. Ye Zhaoying
nangkring dinomor satu dunia sekaligus sebagai juara dunia 95 dan All
England 96. Ye masih ditopang oleh Wang Chen (7), Zhang Ning (9), dan
Han Jigna (4). Sementara sektor ganda, nama Ge Fei/Gu Jun sebagai
peringkat teratas yang merajai nomor ganda putri menambah kuatnya tembok
China. Nomor ganda masih ditambah Qin Yiyuan/Tang Yongsu yang
berperingkat 3 dunia.
Sementara materi tim Indonesia kalah jauh
bila berkaca dari peringkat dan hasil turnamen sebelumnya. Susi sang
lokomotif tim, sudah mulai turun prestasinya. Kecepatan dan reli-relinya
mulai mampu di antisipasi oleh lakar putri China. Susi saat itu berada
diperingkat ke 3. Gelar juara dunia dan All England bukan lagi miliknya.
Peran Susi disektor tunggal dibantu Mia Audina (11), Yuliani Sentosa
(13), Meluawati (29) dan Lydia Djaelawijaya. Sektor ganda diperkuat oleh
Elyza Nathanael/Zelin Resiana(8), Lili Tampi/Finarsih (12) dan Deyana
Lomban sebagai pemain cadangan.
Namun semangat juang dan
kebersamaan tim menjadi modal yang bisa mengalahkan predikat peringkat
dunia. Pamor Susi pun masih menjadi point plus kubu Indonesia.
Keberadaan Susi mampu meningkatkan moril tim yang kembali di kawal oleh
Lutfi Hamid sebagai pimpro. Mental baja pemain Indonesia mampu
membalikan ramalan banyak pihak.
Tahun itu Indonesia ada di
grup A bersama China dan Jepang. Kala itu sebagai juara bertahan
Indonesia masih diberi predikat seeded pertama. Sementara China ada di
seeded ke 3/4. Dalam penentuan juara dan runner up, Indonesia sengaja
menyimpan Susi. Maka Mia pun naik pangkat. Hasilnya bisa ditebak Mia dkk
icukur gundul 5-0 oleh China. Menjadi runner up grup A, Indonesia
dipertemukan dengan Korea Selatan sebagai juara Grup B dibabak
semifinal. Sementara China bertemu Denmark.
Korea Selatan
adalah tim yang dijagokan juara setelah China, sekaligus seeded ke 2.
Bang Soo Hyun dkk mempunyai prestasi yang lebih mumpuni dibandingkan
prestasi srikandi Indonesia. Namun pertemuan dengan Indonesia diajang
Uber kala itu menjadi anti klimak. Korea yang lebih diunggulkan digebuk
4-1. Bahkan Susi menang meyakinkan atas Bang 11-8 11-0, demikian halnya
dengan pasangan Elysa/Zelin yang tampil menawan saat mengalahkan ganda
Gil Yong Ah/Jang Hye Ock 15-6 15-3. Dan Mia mampu menutup kemenangan
setelah mengalahkan Kim Ji Hyun.
Partai semifinal lainnya,
China unggul telak atas Denmark 5-0. Akhirnya partai final kembali
mempertemulkan kembali Indonesia dan China seperti yang terjadi dua
tahun sebelumnya di Jakarta.
Final Uber Cup 1996
Sang
lokomotif tim Indonesia, Susi Susanti mampu meniupkan semangat perang.
Di partai perdana legenda Indonesia itu berhasil melaksanakan perannya.
Mental bajanya menjadi kunci kemenangan nan gemilang. Kekalahan set
pertama yang sangat telak 4-11 dibalas dengan perjuangan dan
kegigihanya. Set keduakekalahan sudah membayang dengan tertinggal 2-5,
namun semua berubah. Angka lima menjadi angka mati bagi Ye. Mental
pemainpun akhirnya menjadi kunci. Setelah mampu mencuri set kedua,
permainan Susi semakin menggila. Setengah set awal ditutup dengan skor
sempurna 6-0.
Perpindahan tempat makin mengukuhkan kedigdayaan
Susi, dengan unggul jauh 8-0. Ye sempat bangkit dan mengejar point
menjadi 8-5. Ye sebenarnya mampu untuk
terus mengejar. Namun istilah
'the winner splin' tiba-tiba merubah semuanya. Point Ye hampir menjadi
enam, ketika ia melancarkan dropshot yang tajam. Susi dengan perjuangan
yang ektra tinggi mampu mengembalikan bola dengan splin. Hanya selang
dua detik Susi bangkit, bola oleh Ye dismash ke kanan. Susi meraih
sembari menjatukan badan dan hanya bertumpu satu lutut. Bola masih
kembali. Entah apa yang ada dibenak Ye, dia hanya terpaku melihat arah
bola. Dan terkejut ketika bola jelas masuk. Dari kejadian itu mental Ye
benar-benar ambruk. Susi akhirnya unggul 11-5 diset akhir.
Semangat juang Susi menjadi panutan untuk partai selanjutnya. Elyza
Natahael/Zelin Resiana walau harus takluk dari the duble G, Ge Fei/Gu
Jun namun perjuanganya tak kalah hebat. Set pertama tanpa diduga
Elyza/Zelin mampu memenangkan dengan cukup meyakinkan 15-7. Set kedua
dibalas oleh Ge/Gu dengan skor 15-8. Separuh set akhir ganda utama
Indonesia ini sudah unggul 8-5, bahkan setelah pindah tempat Elyza/Zelin
telah unggul 12-8. Secara tak diduga Ge/Gu sukses mengejar. Kemenangan
didepan mata Elyza/Zelin pun sinar. Set ketiga ditutup dengan 15-12
untuk Ge/Gu.
Partai ketiga, sang hercules Indonesia Mia Audina
berebut point dengan Wang Chen. Mia bermain sangat taktis. Semangat
juang sang kayak, Susi Susanti menjadi pemacu adrenalinya untuk
memperoleh kemenangan. Piala Uber 94 menjadi pengalaman berharga
baginya. Mia akhirnya menjadikan point 2-1 untuk Indonesia setelah
unggul 11-4 11-6 atas Wang.
Kemenangan Mia membuat Indonesia
hanya butuh satu kemenangan lagi untuk meraih sekaligus mempertahankan
Piala Uber. Partai ganda kedua menjadi kunci penentu kemenangan
Indonesia. Lili Tampi/Finarsih membalas kekalahan meraka dibabak
penyisihan atas Qin Yiyuan/Tang Yongsu. Kematangan mental kembali
mementahkan kelebihan teknik dan usia. Lili/Finarsih berhasil tampil
gemilang. Kemenangan 15-9 15-10 mengantarkan Indonesia kembali merebut
lambang supremasi beregu putri. Partai terakhirpun masih menjadi milik
Indonesia. Meluawati yang hanya berperingkat 29 dunia tak
disangka-sangka menaklukan Zhang Ning yang berperingakt jauh diatasnya
yaitu 9 dunia. Skor kemenangan Meluawati sangat meyakinkan 11-6 11-2.
Kemenangan Indonesia menjadi bukti bahwa kebersamaan tim dan semangat
juang untuk menang adalah utama. Ramalan media mampu dipatahkan. Semoga
tim Uber Indonesia kali ini bisa mencontoh nostalgia Uber cup 96.
Manager Uber Cup, Susi bisa jadi kekuatan tersendiri walau bukan menjadi
pemain kali ini.
Nasionalisme Dunia Maya Mendukung Bulutangkis Indonesia
sudah bukan hal yang aneh, jika stasiun televisi ataupun media cetak di
Indonesia tidak menyiarkan berita dari perhelatan akbar olahraga yang
sering mengharumkan dan mengangkat nama Indonesia di berbagai ajang
internasional, namun itu bukanlah alasan bagi para Fans badminton untuk
berhenti mendukung sepak terjang tim merah putih di setiap turnamen.
Ada situs yang menjadi fokus bagi rekan-rekan fans Badminton saat ini,
demi mendukung para atlet bulutangkis kebanggaan tanah air berjibaku di
setiap turnamen untuk mengibarkan sang merah putih di podium
tertinggi, sebagai juara. meskipun stasiun TV nasional tidak ada yang
concern, tapi inilah wujud konkrit kami terhadap pergerakan Badminton
Indonesia. SATU INDONESIA untuk Kejayaan BULUTANGKIS kita meskipun hanya
melalui pantauan skor DUNIA MAYA.. D
Banyak penggila
bulutangkis dengan sabar memelototi pergerakan skor ketika pemain
indonesia bertarung bahkan ada beberapa page yang updates skore. Ketika
upadates skore terjadi, ada yang kasih semangat (walau gk kedengeran
sama atlet yang maen.. sangking tergila2ny dengan
badminton..hehehe..peace!), ada yang komat-kamit, ada yang sering gak
bisa jaga mulut dll. Sampe2 ada s'orang teman yang bilang gini :“kamu
gila ya, memelototi pergerakan skor doang?” wkwkkk..
hehehe..
ya begitulah kami, Fans berat tim Bulutangkis Indonesia yang selalu
mendukung supaya sang merah putih berkibar dan bangsa Indonesia tetap
harum dimata dunia Internasional meskipun saat ini belum ada hasil yang
maksimal dari mereka!!
JAYALAH BULUTANGKIS INDONESIA………!!!!!
Rudy Hartono
"Olahragawan Bukanlah Kopi Instan!"
PB PBSI jadi tersangka utama memblenya bulutangkis Indonesia. Jangankan
emas Olimpiade, ke putaran final Thomas-Uber Cup pun sudah untung.
Tapi, Indonesia butuh lebih dari sekadar keberuntungan untuk bisa mengembalikan kejayaannya di pentas bulutangkis dunia.
Rudy Hartono, maestro bulutangkis Indonesia peraih 8 gelar juara
tunggal putra All England, menohok PB PBSI selaku induk organisasi
bulutangkis Indonesia atas bobroknya pembinaan atlet nasional.
Menurut Rudy, butuh 10 tahun untuk mencetak pebulutangkis berkualitas.
Tak bisa instan. Yang jadi persoalan, bagaimana proses dan sistem
pembinaan itu dijalankan.
Rudy juga menyorot masih rendahnya
kesadaran atlet berlatih keras, tekun, dan konsisten. Dan, katanya, PB
PBSI terkesan memanjakan atletnya dengan memberikan kebebasan.
Sejatinya, tentu, PB PBSI tak bisa dijadikan satu-satunya tersangka.
Pemerintah dan atlet itu sendiri pun ikut jadi penyebab lemahnya
kekuatan bulutangkis Indonesia 10 tahun terakhir.
Lantas, apa
yang harus diperbaiki untuk mengembalikan kejayaan bulutangkis
Indonesia? Apa pendapat Rudy sebagai salah satu tokoh yang pernah
membuat Indonesia dipandang dunia lewat bulutangkis?
Berikut kutipan wawancara sportiplus.com dengan Rudy:
Apa yang salah di PB PBSI?
Pembinaan. Yang di pelatnas salah mendidik. Mencetak atlet tak bisa
instan. Atlet terlalu dimanja pelatih. Harusnya buat perjanjian. Kalau
atlet tak bisa mencapai target, kasih hukuman. Tak perlu pakai pelatih
asing. Yang penting pelatihan jangan jangka pendek. Sekarang saya
diminta jadi pelatih dan dibayar Rp 1 miliar pun tak bisa menang. Mau
pelatih dari surga pun tidak mungkin bisa membuat Indonesia menang
melawan China. PBSI sekarang cenderung crash program. Alasannya banyak.
Saya tak bermaksud menjelekkan, tapi berusaha berbicara jujur.
Bagaimana peran pemerintah?
Pemerintah semestinya tak hanya berperan memberikan dana. Bulutangkis
butuh lebih dari sekadar uang, tapi juga perhatian. Olahragawan bukan
kopi instan. Butuh 10 tahun untuk mencetak atlet terbaik dengan
pembinaan yang bagus.
Lantas, bagaimana peluang Indonesia di Olimpiade?
Jangan tanya. Bukan saya pesimis, tapi kenyataannya seperti itu kok.
Jangan berharap emas Olimpiade. Butuh lebih dari sekadar keberuntungan
untuk bisa mempertahankan tradisi emas Indonesia di Olimpiade dari
bulutangkis.
Bagaimana peluang di Thomas-Uber Cup 2012?
Jangan berharap bisa merebut piala. Untuk Thomas, masuk final saja
bagus. Dari trek rekor saja sudah kalah jauh. Tim Uber bisa masuk
semifinal saja sudah bagus sekali. Main di kandang macan, bagaimana mau
menang. Negara lain yang lebih kuat di dunia mau menang melawan China
saja susah, apalagi Indonesia. Kalau saya bilang, itu mimpi.
Harusnya PB PBSI berbuat apa?
Buat seperti China dan Korea. Jangan ada kompromi antara pelatih dan
pemain. Atlet jangan dimanja. Kalau tidak berprestasi, ya jangan dikirim
ke luar negeri. Kalau ditanya, separah itukah? Iya! Yang juga kita
butuhkan sekarang adalah memasyarakatkan bulutangkis di sekolah agar
bibit-bibit unggul terus bermunculan.
#Perbedaan Pacaran, Long Distance, ama Jomblo (Hanya di Malam Minggu)
Pacaran: sayang, kita dpt bonus liburan ke Bali
Long distance: sayang, aku dpt bonus pulsa 100 ribu
Jomblo: sayang anda kurang beruntung....
Pacaran: Kangen :')
Long distance: Kangen :'(
Jomblo: Kang.....kung dua iket sama cabe sekilo, bungkus ya mang...
Pacaran: Ngapel di prapatan
Long distance: Janjian di prapatan
Jomblo: Kesenggol angkot di prapatan
Pacaran: Yang, makan diluar yuk...
Long distance: Yang, udah makan belum?
Jomblo : Eyang! Adek Laper nih....
Pacaran: Ngapel sambil gandengan di kebun binatang...
Long distance: Kirim2 foto binatang lucu.....
Jomblo: Di seruduk kebo...
Curhat Si Bulutangkis Pada Kawannya-Sepak Bola
Kawan, izinkan aku sekedar berbagi cerita padamu. Sebelumnya, aku minta
maaf beribu kali padamu bila membuat telingamu jadi semak dengan
resahku ini.
Beberapa tahun terakhir, aku jadi iri melihatmu
yang sangat dicintai oleh hampir semua orang di negeri tempat kita
bernaung ini. Negeri yang lagu kebangsaannya sering menggema di pentas
dunia saat pemain-pemain kita berlaga merajut prestasi.
Kawan, kuharap dirimu tak marah karena jujur aku telah iri pada kawan
sendiri. Kuberharap dirimu tak memasukkannya dalam hati. Iya, aku iri
bukan karena orang-orang lebih menyukai kepopuleran yang kamu miliki
saat ini. Tapi aku iri karena bos kita (pengelola olahraga) itu.
Seakan-akan si bos telah mengusirku untuk segera menjauh dari
pandangannya.
Kawan, tak ada maksudku untuk
membanding-bandingkan jumlah trofi kejayaan yang kita bawa pulang ke
negeri yang bernama Indonesia ini. Kamu pasti sudah melihatnya sendiri.
Pemain-pemainku lebih sering menebar bau wangi nama negara di level
internasional. Apalagi di era tahun 90-an, mendengar nama-nama pemainku
saja, lawan-lawan menjadi gusar dan gemetar.
Kawan, mungkin bos
kita terlalu percaya pada pemain-pemainku yang luar biasa itu. Sehingga
tak perlu lagi butuh perhatian. Tak perlu kusebut satu per satu. Taufik
Hidayat salah satunya, kamu pasti kenal dekat siapa dia. Saat ini
dialah yang selalu menjadi ujung tombakku. Sempat aku terharu saat ia
curhat ke media beberapa waktu lalu. Katanya, regenerasi bulutangkis
terlambat.
Kawan, saat mengetahui informasi itu, aku semakin
iri saja padamu. Ingin kuteriak sekencang-kencangnya seperti gemuruh
suara penonton dalam stadion yang kamu miliki, biar bos kita tak lagi
tutup mata.
Aku semakin sedih melihat realita ini. Saat kamu
punya banyak cara untuk mendapatkan regenerasi pemain pengganti
seniornya. Kamu punya banyak liga untuk mengasah kemampuan pemain dan
menelorkan bibit-bibit baru. Mulai liga profesional hingga tingkat
amatiran. Mulai dari Sabang hingga Meurauke. Bahkan mengirim anak-anak
usia muda hingga ke Benua Amerika sana untuk belajar menyepakbola.
Tentunya melimpah dana untuk itu kan, sedangkan aku? Ehmm, usah ditanya
lagi. Tahu sendirilah macam mana. Kalaupun kepedulian itu juga ada,
hanya sebatas menggema di Pulau Jawa. Itupun belum dikelola secara
sempurna.
Duhai kawanku, sepak bola. Aku tak mau bicara banyak
dan berandai-andai ini itu. Pintaku cukup satu, jika kamu berjumpa sama
bos kita yang memandangku kini sebelah mata, tolong sampaikan perihal
kesedihanku ini. Terimakasih tak terhingga bila mau membantuku. Semoga
kita bisa sama-sama membanggakan nama bangsa.
Langganan:
Postingan (Atom)