Senin, 27 Februari 2012

Pengen Nangis Rasanya..

Piala Thomas 1984, Adu Strategi Seru!

Piala Uber 1984.

Tim Putri China yang sudah mendominasi dunia sejak 1982, di arena ini merupakan pendatang baru, yang diperhitungkan sebagai calon paling kuat untuk merebut supremasi dan membawa pulang Piala Uber ke negaranya, untuk kali pertama.

Jepang yang mendominasi Piala Uber sejak 1966 samasekali tidak berkutik, bahkan gagal maju ke semi final. Demikian juga Indonesia yang langganan finalis, Ivanna Lie dan kawan-kawan menyerah oleh China 0-5, Jepang 2-3 dan Denmark 2-3.

Seperti diramalkan China memboyong piala itu dengan menyapu semua lawannya dengan angka mutlak 5-0, termasuk Inggris di final.

Piala Thomas 1984.

Masih belum ada lawan berarti yang diperhitungkan mampu menandingi kedigdayaan tim putra China dan Indonesia. Sebagai juara bertahan, China memang lebih diunggulkan untuk mempertahankan Piala Thomas. Keunggulan ini diperhitungkan berkat prestasi tunggal mereka yang lebih mengkilap dalam 2 tahun terakhir ini. Namun, keunggulan mereka tidaklah mutlak, karena ganda mereka masih kalah selapis dibanding Indonesia. Tapi tidak ada yang tidak sepakat bahwa China dan Indonesia akan mengulangi pertemuan mereka di final seperti 1982. Siapa yang menang, akan benar-benar tergantung pada strategi masing-masing tim untuk “mensiasati” peraturan baru ini.

Tim Thomas China 1984

Selain masih eksisnya jago-jago tunggal putra tim Thomas1982, Han Jian 28 tahun, Luan Jin 26, dan Chen Changjie 25, tim putra China juga diperkuat bintang-bintang baru yang prestasinya sedang menanjak Yang Yang 21 dan Zhao Jianhua 19. Sedang yang didaftarkan sebagai pemain ganda adalah Sun Zhian 28 Yao Ximing 28, He Sangquan 29, Lin Jiangli 30 serta pemain muda Jiang Guoliang 22, Li Yongbo 22 . Tian Bingyi 21.

Berdasarkan peringkat, susunan pemain tunggal China adalah Zhao Jianhua ditunggal pertama, kemudian berturut-turut Han Jian, Yang Yang, Luan Jin dan Chen Changjie. Di ganda, meskipun banyak kemungkinan yang terjadi, tapi alternatifnya tidak banyak. Sun/Yao pertama, kemudian He/Lin atau He/Jiang dan ganda baru yang sedang menanjak Li Yongbo/Tian Bingyi

Tim Thomas Indonesia 1984

Tumpuan harapan Indonesia terletak di pundak Liem Swie King 28 tahun dan bintang baru juara dunia 1983, Icuk Sugiarto 21, yang didukung Hastomo Arbi 26, Eddy Kurniawan 21 dan Hadiyanto 28 .

Beberapa saat sebelumnya, Icuk sempat membuat berita dengan menolak untuk dilatih oleh Tan Yoe Hok bersama rekan yang lain. Tan yang berjiwa besar, bahkan bersedia mundur sebagai pelatih, tapi kemudian Icuk diperkenankan berlatih sendiri bersama Tahir Jide yang kemudian diangkat sebagai pelatih fisik.

Hastomo Arbi, adalah sulung dari 3 Arbi bersaudara, bintang bulutangkis Indonesia (Hastomo, Eddy Hartono dan Hariyanto). Namanya sudah sempat mendunia sejak 1979, tapi karena terkena skorsing setahun akibat kasus doping di All England 1981, dia tidak memperkuat Indonesia di Piala Thomas 1982.

Menyadari bahwa secara kwalitas tunggal Indonesia yang mampu menandingi tunggal China hanyalah King dan Icuk, Indonesia berusaha keras untuk menyimpan 2 pemain ini, agar peringkat dunianya turun. Di hari H, susunan pemain Indonesia sesuai peringkat adalah Hastomo, Icuk, King, Eddy Kurniawan dan Hadiyanto.

Sedangkan yang didaftar untuk sektor ganda adalah Icuk, King, Christian Hadinata 34 tahun, Hadibowo Susanto 25, Bobby Ertanto 26, Kartono Hariatmanto 29, Rudy Heryanto 29 serta Sigit Pamungkas 25.

Indonesia memang beruntung punya pemain dengan talenta seperti Christian. Sebagai pemain paling senior, dia bisa dipasangkan dengan siapa saja yang tertera dalam daftar dan punya prestasi bagus. Hal ini yang membuat pusing calon lawan Indonesia karena kemungkinan susunan ganda Indonesia bisa amat bervariasi. Meskipun demikian peringkat ganda tertinggi adalah Christian/King, disusul Kartono/Heryanto, Christian/Hadibowo, Hadibowo/Bobby Ertanto, Christian/Icuk dan Christian/Bobby

Perang Strategi yang seru.

Meskipun tidak mudah, (Indonesia dipaksa habis2an oleh Inggris 3-2, dan China lolos dari hadangan Denmark juga dengan 3-2), tapi seperti yang diperhitungkan, China akhirnya berjumpa Indonesia dalam partai ulangan final 1982.

Meninjau susunan tunggal China sesuai peringkat pemain (dan memang dipakai China selama penyisihan), formasi ini menguntungkan Indonesia. Hanya Hastomo yang diperhitungkan kalah kecepatan oleh Zhao Jianhua. Icuk seimbang dengan Han Jian (skor 3-3). King ditunggal ke 3 diperhitungkan akan mampu mengatasi Yang Yang (terakhir Yang Yang kalah oleh King di Indonesia Open 1983).

China yang underdog di ganda, amat memperhitungkan akan turunnya ganda maut Christian/King (meskipun tidak pernah diturunkan di babak penyisihan). Tidak ada ganda China manapun yang mampu menahan ganda Indonesia ini. Karena itu China dengan sengaja melepas partai ini, membiarkan pasangan keduanya He Sangquan/Jiang GuoLiang untuk menghadapinya. Merombak pasangan utamanya Sun Zhian/Yao Ximing dengan Sun Zhian/Tian Bingyi yang diperhitungkan akan mampu mengatasi Kartono/Heryanto di ganda kedua sekaligus partai terakhir.

Tapi susunan pemain yang diajukan pagi harinya oleh kedua tim, membuat semua orang terkejut, tidak terkecuali kedua kubu.

China tenyata tidak memainkan Zhao Jianhua! Pemain muda kidal yang dahsyat dan belum terkalahkan sejak kemunculannya 6 bulan terakhir, tidak diturunkan!

Susunan pemain tunggal kedua tim adalah Hastomo vs Han Jian, Icuk vs Yang Yang dan King vs Luan Jin. Formasi ini justru tidak menguntungkan Indonesia. Hastomo sudah 3 kali bertemu Han Jian tanpa pernah menang, Demikian juga Icuk yang 3 kali kalah telak oleh Yang Yang. Hanya kans King vs Luan Jin yang seimbang (skor 4-3 untuk King).

Di partai ganda, ternyata sampai detik terakhir pasangan maut Christian/King tidak pernah diturunkan! Christian tetap dipasangkan dengan Hadibowo, pasangannya selama penyisihan. Dan Kartono/Heryanto dirombak dengan King /Kartono!. Pasangan yang belum pernah bermain di dunia internasional ini, tidak punya peringkat dan menjadi ganda kedua.

Stadium Negara Kuala Lumpur, Jumat malam 18 Mei 1984.

Supporter Indonesia sejak siang sudah memadati arena pertandingan. Berasal dari segala penjuru dan strata sosial. Tidak ada bedanya pekerja kasar konstruksi, pekerja perkebunan, mahasiswa, dosen, karyawan kantoran, pejabat, pengusaha, wisatawan. Semuanya satu visi mendukung Indonesia!. Rasanya malam itu WN Indonesia yang tetap jaim adalah yang harus duduk di kursi kehormatan, Menpora Abdul Gafur karena didampingi pejabat Malaysia. Mantan Wapres dan Ketua KONI, Sri Sultan HBIX bahkan memilih duduk bersama offisial tim Indonesia. Yang lain? Kalah jumlah gak masalah, yang penting gak kalah aksi dan kencangnya teriakan.

Betul, supporter tim China yang asli memang tidak sebanyak dan segarang supporter Indonesia. Yang bikin masalah adalah supporter yang jelas-jelas membawa bendera strip biru putih, tapi berlaku sebagai supporter China. Perang supporter yang sebenarnya terjadi adalah dengan supporter Malaysia! Ungkapan “saudara serumpun” rupanya tidak berlaku di arena olahraga. Yang terjadi adalah “saingan serumpun”!.

Pertandingan itu.

King yang harus bermain rangkap diijinkan untuk bermain lebih dulu. Membuka pertandingan melawan Luan Jin yang tidak berkutik oleh ‘King’s Smash’ di set pertama. King unggul 15-7. Di set kedua, King bermain terlalu terburu-buru dalam usaha untuk menang straight set. Namun Luan Jin yang sudah mulai panas, gigih bertahan.

Kemudian insiden itu terjadi.

Dalam kedudukan 9-7, King dianggap memukul bola Luan Jin sebelum melewati net. Setelah itu konsentrasi King bubar berantakan, smashnya banyak keluar atau nyangkut. Luan Jin mampu memaksa rubber set 11-15. Set ketiga adalah titik balik. Luan Jin terus menerus unggul dan mengakhiri partai itu untuk kemenangan China 10-15 (China unggul 1-0).

Awan kecemasan melanda kubu Indonesia. King yang diharap menyumbang angka di tunggal ternyata kalah. Akankah tunggal Indonesia kalah semua?

Hastomo Arbi yang ‘underdog‘ ternyata tidak ada takutnya. Pemain asal Kudus yang mungil (162 cm) dan tampan ini seperti kesetanan meladeni Han Jian. Kekalahannya sebelumnya seperti tidak berpengaruh. Kombinasi lob serang dan dropshot tajam membuatnya unggul cepat 9-3, sebelum disamakan 10-10. Han Jian sempat meraih ‘match point‘ 14-12 sebelum Hastomo memaksakan deuce 14-14. Namun set itu ditutup untuk kemenangan Han Jian 17-14. Set kedua Hastomo makin meningkatkan tempo. Footworknya sempurna dan kombinasi lob serang dan dropshotnya semakin tajam dan cepat, membuat Han Jian pontang panting tidak berkembang. Hastomo sepenuhnya mengontrol permainan. 9-2, 13-2, 13-6 dan 15-6 dalam 15 menit saja.

Set ketiga Han Jian mencoba meladeni permainan cepat Hastomo dan sempat unggul 0-1, 1-2. Tapi tanpa pindah servis, Hastomo melaju 8-2. Setelah pindah tempat Han Jian mendapatkan ‘second wind‘ dan angka mulai bergeser alot. Pada kedudukan 11-7 untuk Hastomo, tiba-tiba pelatih Tan Yoe Hok berlari menemui Wasit Kehormatan Arthur Jones, memprotes keputusan wasit. Diiringi kilatan puluhan lampu blitz wartawan dan sorakan saling ejek antar supporter, pertandingan terhenti. Meskipun protes ditolak, dan pertandingan dilanjutkan kembali, mood Han Jian menjadi rusak. Hastomo menutup set ketiga ini untuk kemenangannya 15-8. (China 1, Indonesia 1).

Angin segar bertiup kembali, Indonesia membuka peluang. Halo-halo Bandung dan Garuda Pancasila berkumandang tanpa ada yang suruh, tanpa ada yang pimpin.

Icuk Sugiarto ternyata bermain di bawah form terbaiknya. Tidak mampu keluar dari tekanan mental akibat kekalahan sebelumnya, permainannya segera menjadi bulan-bulanan. Tidak saja oleh Yang Yang, tapi juga oleh supporter lawan. Supporter Indonesiapun yang kecewa karena melihat Icuk yang bermain tanpa semangat, akhirnya ikut-ikutan mengejeknya. Permainannya makin kacau dan Icuk kalah menyakitkan 9-15, 10-15. (Indonesia 1, China 2)

Christian yang tampil berikutnya bersama Hadibowo bermain tenang seolah tanpa beban harus menyamakan kedudukan. Sudah diduga, perlawanan He Sangquan/Jiang Guoliang berlangsung gigih. Mereka tahu kalau Hadibowo berada di depan net, ganda kita ini akan “mati angin”. Karena itu mereka berusaha mendorong Christian ke belakang sambil menarik Hadibowo ke depan. Tapi mereka kalah pengalaman. Angka ketat berkejaran 3-3, 4-4, 7-7, 10-10, 13-13. Dan Christian/Hadibowo menyudahi set pertama ini 18-14.

Set kedua ganda China meningkatkan kecepatannya dan ganti menekan. Mereka unggul 0-3, 1-4, 2-7,dan Christian melambatkan tempo 5-7, 7-7 Ganda China tancap gas lagi 7-9. Tapi hanya sampai disitu perlawanan mereka. Dengan sekali servis, ganda kita melaju 12-9.

Saat itu smash He dihindari Christian dan keluar.Wasit sudah menyatakan angka untuk pasangan kita, 13-9. Tapi Christian mendatangi wasit, menyatakan bahwa sebelum jatuh di luar lapangan, bola itu sudah menyentuh bahunya lebih dulu. Wasit meralat keputusannya, dan bola berpindah untuk keuntungan He/Jiang 9-12. Sungguh sulit mencari pemain yang bertindak sportif di angka kritis seperti itu. Tapi kemudian He/Jiang justru yang “grogi” dan menyerah 15-10 (Indonesia 2, China 2)

Saat itu sudah hampir tengah malam. Ketegangan merayap sampai ke puncak, menekan setiap orang. Tidak ada lagi penonton yang tahan untuk tetap duduk di kursinya. Offisial, pemain cadangan dan pemain putri Indonesia berdiri rapat bergandeng tangan. Lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan penonton mengiringi King/Kartono masuk lapangan.

Meskipun dua orang ini biasanya lebih suka bermain dibelakang sebagai ‘tukang gebuk’, tapi Kartono malam itu bermain taktis dalam menempatkan bola di depan jaring. Pengembalian lawan yang melambung menjadi sasaran smash King yang sangat tajam. Pasangan baru ini kelihatan belum padu dan sering dalam posisi sejajar mengadu raket bila bola diarahkan diantara mereka, tapi lawannya juga sama tidak padunya.

Meskipun pertandingannya sangat menegangkan dan angka ketat berkejaran, King/Kartono memang lebih unggul selapis, dan terus menerus unggul. Diiringi gegap gempita supporter Indonesia, King/Kartono akhirnya menang juga straight set 18-14, 15-12.

Supporter Indonesia yang paling-paling berjumlah 3.000an orang dari total 10.000 penonton seketika meledak dalam euforia. Ratusan orang turun dari tribun, berlarian masuk lapangan untuk bermain kejar-kejaran dengan petugas. King terisak dibahu Tan Yoe Hok, Sri Sultan HBIX menghampiri Kartono dan memeluknya, Ivanna Lie bersama Yanti Kusmiati sambil membawa Sang Merah Putih kelihatan berlari melakukan “victory lap” yang gagal diselesaikan karena dihentikan oleh petugas. Malam itu Stadium Negara Kuala Lumpur berubah menjadi Istora Senayan. Penonton tidak mau bubar juga walau upacara penyerahan Piala Thomas telah selesai dan waktu sudah menunjukkan jam 02.30 dini hari. Sebuah peristiwa heroik yang sulit saya lupakan, sampai sekarang!
Nostalgia Uber Cup 1996


Menjadi tim yang tidak dijagokan menjuarai sebuah turnamen adalah keuntungan tersendiri untuk bermain lepas tanpa beban. Itu harusnya menjadi motivasi tersendiri untuk tim Piala Uber Indonesia kali ini. Maria Kristin dkk perlu semangat juang tinggi untuk membuktikan bahwa mereka bukanlah tim lemah. Kondisi Tim Uber sekarang jauh lebih baik jika dibandingkan kondisi tim putri tahun 2004 & 2006.

Dalam pertandingan beregu, bertabur pemain bintang bukanlah jaminan untuk menjadi yang terbaik. Kebersamaan tim harus menjadi bagian yang utama. Aura kejuaraan beregu sangat berbeda jauh dengan kejuaraan perseorangan. Dalam kejuaraan beregu, hasil partai sebelumnya berpengaruh terhadap pertandingan selanjutnya. Maka mental pemain akan menjadi hal yang paling penting.

Nostalgia Piala Uber 1996 adalah contoh nyata. Tim Indonesia yang dimotori Susi Susanti mampu keluar menjadi jawara walau banyak media baik dalam negeri maupun luar negeri lebih menjagokan China. Memang prediksi tersebut tidaklah salah sebab tim China waktu itu bermaterikan pemain kelas wahid. Ye Zhaoying nangkring dinomor satu dunia sekaligus sebagai juara dunia 95 dan All England 96. Ye masih ditopang oleh Wang Chen (7), Zhang Ning (9), dan Han Jigna (4). Sementara sektor ganda, nama Ge Fei/Gu Jun sebagai peringkat teratas yang merajai nomor ganda putri menambah kuatnya tembok China. Nomor ganda masih ditambah Qin Yiyuan/Tang Yongsu yang berperingkat 3 dunia.

Sementara materi tim Indonesia kalah jauh bila berkaca dari peringkat dan hasil turnamen sebelumnya. Susi sang lokomotif tim, sudah mulai turun prestasinya. Kecepatan dan reli-relinya mulai mampu di antisipasi oleh lakar putri China. Susi saat itu berada diperingkat ke 3. Gelar juara dunia dan All England bukan lagi miliknya. Peran Susi disektor tunggal dibantu Mia Audina (11), Yuliani Sentosa (13), Meluawati (29) dan Lydia Djaelawijaya. Sektor ganda diperkuat oleh Elyza Nathanael/Zelin Resiana(8), Lili Tampi/Finarsih (12) dan Deyana Lomban sebagai pemain cadangan.

Namun semangat juang dan kebersamaan tim menjadi modal yang bisa mengalahkan predikat peringkat dunia. Pamor Susi pun masih menjadi point plus kubu Indonesia. Keberadaan Susi mampu meningkatkan moril tim yang kembali di kawal oleh Lutfi Hamid sebagai pimpro. Mental baja pemain Indonesia mampu membalikan ramalan banyak pihak.

Tahun itu Indonesia ada di grup A bersama China dan Jepang. Kala itu sebagai juara bertahan Indonesia masih diberi predikat seeded pertama. Sementara China ada di seeded ke 3/4. Dalam penentuan juara dan runner up, Indonesia sengaja menyimpan Susi. Maka Mia pun naik pangkat. Hasilnya bisa ditebak Mia dkk icukur gundul 5-0 oleh China. Menjadi runner up grup A, Indonesia dipertemukan dengan Korea Selatan sebagai juara Grup B dibabak semifinal. Sementara China bertemu Denmark.

Korea Selatan adalah tim yang dijagokan juara setelah China, sekaligus seeded ke 2. Bang Soo Hyun dkk mempunyai prestasi yang lebih mumpuni dibandingkan prestasi srikandi Indonesia. Namun pertemuan dengan Indonesia diajang Uber kala itu menjadi anti klimak. Korea yang lebih diunggulkan digebuk 4-1. Bahkan Susi menang meyakinkan atas Bang 11-8 11-0, demikian halnya dengan pasangan Elysa/Zelin yang tampil menawan saat mengalahkan ganda Gil Yong Ah/Jang Hye Ock 15-6 15-3. Dan Mia mampu menutup kemenangan setelah mengalahkan Kim Ji Hyun.

Partai semifinal lainnya, China unggul telak atas Denmark 5-0. Akhirnya partai final kembali mempertemulkan kembali Indonesia dan China seperti yang terjadi dua tahun sebelumnya di Jakarta.

Final Uber Cup 1996

Sang lokomotif tim Indonesia, Susi Susanti mampu meniupkan semangat perang. Di partai perdana legenda Indonesia itu berhasil melaksanakan perannya. Mental bajanya menjadi kunci kemenangan nan gemilang. Kekalahan set pertama yang sangat telak 4-11 dibalas dengan perjuangan dan kegigihanya. Set keduakekalahan sudah membayang dengan tertinggal 2-5, namun semua berubah. Angka lima menjadi angka mati bagi Ye. Mental pemainpun akhirnya menjadi kunci. Setelah mampu mencuri set kedua, permainan Susi semakin menggila. Setengah set awal ditutup dengan skor sempurna 6-0.

Perpindahan tempat makin mengukuhkan kedigdayaan Susi, dengan unggul jauh 8-0. Ye sempat bangkit dan mengejar point menjadi 8-5. Ye sebenarnya mampu untuk
terus mengejar. Namun istilah 'the winner splin' tiba-tiba merubah semuanya. Point Ye hampir menjadi enam, ketika ia melancarkan dropshot yang tajam. Susi dengan perjuangan yang ektra tinggi mampu mengembalikan bola dengan splin. Hanya selang dua detik Susi bangkit, bola oleh Ye dismash ke kanan. Susi meraih sembari menjatukan badan dan hanya bertumpu satu lutut. Bola masih kembali. Entah apa yang ada dibenak Ye, dia hanya terpaku melihat arah bola. Dan terkejut ketika bola jelas masuk. Dari kejadian itu mental Ye benar-benar ambruk. Susi akhirnya unggul 11-5 diset akhir.

Semangat juang Susi menjadi panutan untuk partai selanjutnya. Elyza Natahael/Zelin Resiana walau harus takluk dari the duble G, Ge Fei/Gu Jun namun perjuanganya tak kalah hebat. Set pertama tanpa diduga Elyza/Zelin mampu memenangkan dengan cukup meyakinkan 15-7. Set kedua dibalas oleh Ge/Gu dengan skor 15-8. Separuh set akhir ganda utama Indonesia ini sudah unggul 8-5, bahkan setelah pindah tempat Elyza/Zelin telah unggul 12-8. Secara tak diduga Ge/Gu sukses mengejar. Kemenangan didepan mata Elyza/Zelin pun sinar. Set ketiga ditutup dengan 15-12 untuk Ge/Gu.

Partai ketiga, sang hercules Indonesia Mia Audina berebut point dengan Wang Chen. Mia bermain sangat taktis. Semangat juang sang kayak, Susi Susanti menjadi pemacu adrenalinya untuk memperoleh kemenangan. Piala Uber 94 menjadi pengalaman berharga baginya. Mia akhirnya menjadikan point 2-1 untuk Indonesia setelah unggul 11-4 11-6 atas Wang.

Kemenangan Mia membuat Indonesia hanya butuh satu kemenangan lagi untuk meraih sekaligus mempertahankan Piala Uber. Partai ganda kedua menjadi kunci penentu kemenangan Indonesia. Lili Tampi/Finarsih membalas kekalahan meraka dibabak penyisihan atas Qin Yiyuan/Tang Yongsu. Kematangan mental kembali mementahkan kelebihan teknik dan usia. Lili/Finarsih berhasil tampil gemilang. Kemenangan 15-9 15-10 mengantarkan Indonesia kembali merebut lambang supremasi beregu putri. Partai terakhirpun masih menjadi milik Indonesia. Meluawati yang hanya berperingkat 29 dunia tak disangka-sangka menaklukan Zhang Ning yang berperingakt jauh diatasnya yaitu 9 dunia. Skor kemenangan Meluawati sangat meyakinkan 11-6 11-2.

Kemenangan Indonesia menjadi bukti bahwa kebersamaan tim dan semangat juang untuk menang adalah utama. Ramalan media mampu dipatahkan. Semoga tim Uber Indonesia kali ini bisa mencontoh nostalgia Uber cup 96. Manager Uber Cup, Susi bisa jadi kekuatan tersendiri walau bukan menjadi pemain kali ini.
Nasionalisme Dunia Maya Mendukung Bulutangkis Indonesia

sudah bukan hal yang aneh, jika stasiun televisi ataupun media cetak di Indonesia tidak menyiarkan berita dari perhelatan akbar olahraga yang sering mengharumkan dan mengangkat nama Indonesia di berbagai ajang internasional, namun itu bukanlah alasan bagi para Fans badminton untuk berhenti mendukung sepak terjang tim merah putih di setiap turnamen. Ada situs yang menjadi fokus bagi rekan-rekan fans Badminton saat ini, demi mendukung para atlet bulutangkis kebanggaan tanah air berjibaku di setiap turnamen untuk mengibarkan sang merah putih di podium tertinggi, sebagai juara. meskipun stasiun TV nasional tidak ada yang concern, tapi inilah wujud konkrit kami terhadap pergerakan Badminton Indonesia. SATU INDONESIA untuk Kejayaan BULUTANGKIS kita meskipun hanya melalui pantauan skor DUNIA MAYA.. D

Banyak penggila bulutangkis dengan sabar memelototi pergerakan skor ketika pemain indonesia bertarung bahkan ada beberapa page yang updates skore. Ketika upadates skore terjadi, ada yang kasih semangat (walau gk kedengeran sama atlet yang maen.. sangking tergila2ny dengan badminton..hehehe..peace!), ada yang komat-kamit, ada yang sering gak bisa jaga mulut dll. Sampe2 ada s'orang teman yang bilang gini :“kamu gila ya, memelototi pergerakan skor doang?” wkwkkk..

hehehe.. ya begitulah kami, Fans berat tim Bulutangkis Indonesia yang selalu mendukung supaya sang merah putih berkibar dan bangsa Indonesia tetap harum dimata dunia Internasional meskipun saat ini belum ada hasil yang maksimal dari mereka!!

JAYALAH BULUTANGKIS INDONESIA………!!!!!
Rudy Hartono
"Olahragawan Bukanlah Kopi Instan!"

PB PBSI jadi tersangka utama memblenya bulutangkis Indonesia. Jangankan emas Olimpiade, ke putaran final Thomas-Uber Cup pun sudah untung.

Tapi, Indonesia butuh lebih dari sekadar keberuntungan untuk bisa mengembalikan kejayaannya di pentas bulutangkis dunia.

Rudy Hartono, maestro bulutangkis Indonesia peraih 8 gelar juara tunggal putra All England, menohok PB PBSI selaku induk organisasi bulutangkis Indonesia atas bobroknya pembinaan atlet nasional.

Menurut Rudy, butuh 10 tahun untuk mencetak pebulutangkis berkualitas. Tak bisa instan. Yang jadi persoalan, bagaimana proses dan sistem pembinaan itu dijalankan.

Rudy juga menyorot masih rendahnya kesadaran atlet berlatih keras, tekun, dan konsisten. Dan, katanya, PB PBSI terkesan memanjakan atletnya dengan memberikan kebebasan.

Sejatinya, tentu, PB PBSI tak bisa dijadikan satu-satunya tersangka. Pemerintah dan atlet itu sendiri pun ikut jadi penyebab lemahnya kekuatan bulutangkis Indonesia 10 tahun terakhir.

Lantas, apa yang harus diperbaiki untuk mengembalikan kejayaan bulutangkis Indonesia? Apa pendapat Rudy sebagai salah satu tokoh yang pernah membuat Indonesia dipandang dunia lewat bulutangkis?

Berikut kutipan wawancara sportiplus.com dengan Rudy:

Apa yang salah di PB PBSI?
Pembinaan. Yang di pelatnas salah mendidik. Mencetak atlet tak bisa instan. Atlet terlalu dimanja pelatih. Harusnya buat perjanjian. Kalau atlet tak bisa mencapai target, kasih hukuman. Tak perlu pakai pelatih asing. Yang penting pelatihan jangan jangka pendek. Sekarang saya diminta jadi pelatih dan dibayar Rp 1 miliar pun tak bisa menang. Mau pelatih dari surga pun tidak mungkin bisa membuat Indonesia menang melawan China. PBSI sekarang cenderung crash program. Alasannya banyak. Saya tak bermaksud menjelekkan, tapi berusaha berbicara jujur.

Bagaimana peran pemerintah?
Pemerintah semestinya tak hanya berperan memberikan dana. Bulutangkis butuh lebih dari sekadar uang, tapi juga perhatian. Olahragawan bukan kopi instan. Butuh 10 tahun untuk mencetak atlet terbaik dengan pembinaan yang bagus.

Lantas, bagaimana peluang Indonesia di Olimpiade?
Jangan tanya. Bukan saya pesimis, tapi kenyataannya seperti itu kok. Jangan berharap emas Olimpiade. Butuh lebih dari sekadar keberuntungan untuk bisa mempertahankan tradisi emas Indonesia di Olimpiade dari bulutangkis.

Bagaimana peluang di Thomas-Uber Cup 2012?
Jangan berharap bisa merebut piala. Untuk Thomas, masuk final saja bagus. Dari trek rekor saja sudah kalah jauh. Tim Uber bisa masuk semifinal saja sudah bagus sekali. Main di kandang macan, bagaimana mau menang. Negara lain yang lebih kuat di dunia mau menang melawan China saja susah, apalagi Indonesia. Kalau saya bilang, itu mimpi.

Harusnya PB PBSI berbuat apa?
Buat seperti China dan Korea. Jangan ada kompromi antara pelatih dan pemain. Atlet jangan dimanja. Kalau tidak berprestasi, ya jangan dikirim ke luar negeri. Kalau ditanya, separah itukah? Iya! Yang juga kita butuhkan sekarang adalah memasyarakatkan bulutangkis di sekolah agar bibit-bibit unggul terus bermunculan.
‎#Perbedaan Pacaran, Long Distance, ama Jomblo (Hanya di Malam Minggu)

Pacaran: sayang, kita dpt bonus liburan ke Bali
Long distance: sayang, aku dpt bonus pulsa 100 ribu
Jomblo: sayang anda kurang beruntung....

Pacaran: Kangen :')
Long distance: Kangen :'(
Jomblo: Kang.....kung dua iket sama cabe sekilo, bungkus ya mang...

Pacaran: Ngapel di prapatan
Long distance: Janjian di prapatan
Jomblo: Kesenggol angkot di prapatan

Pacaran: Yang, makan diluar yuk...
Long distance: Yang, udah makan belum?
Jomblo : Eyang! Adek Laper nih....

Pacaran: Ngapel sambil gandengan di kebun binatang...
Long distance: Kirim2 foto binatang lucu.....
Jomblo: Di seruduk kebo...
Curhat Si Bulutangkis Pada Kawannya-Sepak Bola

Kawan, izinkan aku sekedar berbagi cerita padamu. Sebelumnya, aku minta maaf beribu kali padamu bila membuat telingamu jadi semak dengan resahku ini.

Beberapa tahun terakhir, aku jadi iri melihatmu yang sangat dicintai oleh hampir semua orang di negeri tempat kita bernaung ini. Negeri yang lagu kebangsaannya sering menggema di pentas dunia saat pemain-pemain kita berlaga merajut prestasi.

Kawan, kuharap dirimu tak marah karena jujur aku telah iri pada kawan sendiri. Kuberharap dirimu tak memasukkannya dalam hati. Iya, aku iri bukan karena orang-orang lebih menyukai kepopuleran yang kamu miliki saat ini. Tapi aku iri karena bos kita (pengelola olahraga) itu. Seakan-akan si bos telah mengusirku untuk segera menjauh dari pandangannya.

Kawan, tak ada maksudku untuk membanding-bandingkan jumlah trofi kejayaan yang kita bawa pulang ke negeri yang bernama Indonesia ini. Kamu pasti sudah melihatnya sendiri. Pemain-pemainku lebih sering menebar bau wangi nama negara di level internasional. Apalagi di era tahun 90-an, mendengar nama-nama pemainku saja, lawan-lawan menjadi gusar dan gemetar.

Kawan, mungkin bos kita terlalu percaya pada pemain-pemainku yang luar biasa itu. Sehingga tak perlu lagi butuh perhatian. Tak perlu kusebut satu per satu. Taufik Hidayat salah satunya, kamu pasti kenal dekat siapa dia. Saat ini dialah yang selalu menjadi ujung tombakku. Sempat aku terharu saat ia curhat ke media beberapa waktu lalu. Katanya, regenerasi bulutangkis terlambat.

Kawan, saat mengetahui informasi itu, aku semakin iri saja padamu. Ingin kuteriak sekencang-kencangnya seperti gemuruh suara penonton dalam stadion yang kamu miliki, biar bos kita tak lagi tutup mata.

Aku semakin sedih melihat realita ini. Saat kamu punya banyak cara untuk mendapatkan regenerasi pemain pengganti seniornya. Kamu punya banyak liga untuk mengasah kemampuan pemain dan menelorkan bibit-bibit baru. Mulai liga profesional hingga tingkat amatiran. Mulai dari Sabang hingga Meurauke. Bahkan mengirim anak-anak usia muda hingga ke Benua Amerika sana untuk belajar menyepakbola. Tentunya melimpah dana untuk itu kan, sedangkan aku? Ehmm, usah ditanya lagi. Tahu sendirilah macam mana. Kalaupun kepedulian itu juga ada, hanya sebatas menggema di Pulau Jawa. Itupun belum dikelola secara sempurna.

Duhai kawanku, sepak bola. Aku tak mau bicara banyak dan berandai-andai ini itu. Pintaku cukup satu, jika kamu berjumpa sama bos kita yang memandangku kini sebelah mata, tolong sampaikan perihal kesedihanku ini. Terimakasih tak terhingga bila mau membantuku. Semoga kita bisa sama-sama membanggakan nama bangsa.